Ini bukan tulisan yang membicarakan skala prioritas atau fiqih prioritas. Saya ingin berbagi tentang pengalaman yang pernah saya alami. Smoga dapat diambil hikmahnya Buat saya dan yang baca. Apalagi kita sering di hadapkan atas pilihan-pilihan yang mau tidak mau mengharuskan ada yang menjadi prioritas utama.
Sangatlah tidak nyaman ketika dihadapkan pada prioritas. Saya pernah janji ketemuan dengan seseorang yang saya anggap penting dalam hidup saya, jam dan tempatnya sudah ditentukan, dia yang mengaturnya, saya percayakan sperti keinginannya agar dia nyaman dengan pilihannya. Saya sendiri bisa menyamankan diri asalkan bisa bertemu dengannya. Kemudian datanglah waktu itu, semakin dekat dan hati semakin senang karena ingin bertemu dengan wajah yang selama ini dinantikan, walau mungkin tidak harus berlama-lama.
Selang tidak berapa lama, sebuah sms harus mengubah semuanya. Pertemuan tidak jadi, temannya ngajak ketemuan dan minta ditemani jalan-jalan. Oke, saya tidak apa-apa, itu yang terucap, dihati lain lagi. Saya memang tidak terbiasa mengungkapkan kekecewaan saya pada orang lain, sedapat mungkin saya ingin orang lain tetap merasa nyaman berteman dengan saya, terbiasa memendam emosi dalam hati (ini jenis kelemahan yang ingin saya perbaiki).
Dari sini setidaknya saya semakin tahu posisi saya dihadapannya, semakin kenal kan lebih baik, artinya kedepan saya tidak harus terlalu berharap lagi biar tidak terlalu kecewa saat tidak dijadikan prioritas. Artinya saya semakin tahu betapa enaknya saat dijadikan prioritas utama begitu juga sebaliknya, betapa arti sabar itu harus dijalani dan lebih dipahami. Saya semakin termotivasi untuk menjadi yang terbaik bagi orang lain, berbuat dan memiliki arti, Bagi Sang Pencipta dan bagi makhluk.
Ya Allah berikanlah kami kesabaran, dan ajari kami agar bisa mensyukuri nikmat hidup ini.









