Yang tak mungkin dilakukan oleh orang Munafik

5 09 2009

from: Renungan mutiara di bulan suci.

Ini cuplikan sebagian orang shalih yang sangat menyembunyikan amal-amal mereka. Perhatikanlah perkataan Amran bin Khalid rahimahullah, ” Aku mendengar Muhammad bin wasi mengatakan” Ada orang yang kerap menangis selama dua puluh tahun, tapi tangisannya tak pernah diketahui isterinya”. Mirip dengan apa yang dikatakan Amran bin Khalid, Yusuf bin Athiyah rahimahullah juga menyampaikan dari Muhammad bin wasi’ ” Aku mengenal seorang yang kepalanya ada diatas satu bantal dengan istrinya, dan pipinya basah karena air matanya, namun istrinya tidak mengetahui tangisannya. Aku juga mengenal seorang yang berdiri di satu shaf shalat lalu air matanya menetes di pipinya, namun orang yang berdiri disisinya tidak mengetahui hal itu”.

Berusaha menyembunyikan amal shaleh, itu menjadi salah satu sikap yang menjadi karakter mereka. Bukan hanya sekedar melakukan amal shaleh secara sembunyi, tapi berusaha agar amal mereka tidak diketahui orang lain. Berbagai sikap akhlak itu mengalir dalam sejumlah catatan hidup mereka. Abu sirrin rahimahullah, disebutkan tertawa diwaktu siang, namun ketika waktu malam ia beribadah seperti membunuh penduduk satu desa karena sepinya.

Inilah bentuk ibadah ang selamanya tidak mungkin dilakukan oleh orang -orang munafik. Tak bisa dilakukan oleh orang-orang pendusta. Karena kedua kelompok orang tersebut, yang munafik dan pendusta, akan selalu melandasi amal baiknya karena penglihatan dan penilaian orang lain kepada dirinya. Sementara menyembunyikan ibadah dan tidak mengandalkan penglihatan orang lain dalam beramal shalih, hanya dilakukan oleh orang-orang shalih saja.
Amal ibadah secara rahasia hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tulus, jujur, shadiq dalam keimanannya. Karena ketika itulah ia mendapatkan ruang kesendiriannya bersama Allah.
……
………
Menyembunyikan amal shalih adalah akhlak orang-orang shalih. Tapi tidak berarti amal-amal shalih seluruhnya harus dilakukan secara sembunyi. Ada banyak amal shalih yang tidak mungkin dilakukan kecuali dengan terang-terangan. Ada banyak kesempatan melakukan ketaatan yang justru harus dilakukan dihadapan banyak orang. Maka yang terpenting adalah bagaimana kita menyeimbangkan antara kebaikan kala sendiri dan kebaikan kala bersama orang lain. Keseimbangan inilah yang menjadi cermin keikhlasan. Dan bobot keikhlasan inilah yang kelak menjadi penentu nilai amal yang kita lakukan.

Mari saudaraku, malam ini kita menyendiri bersama Allah.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: