Pertolongan pertama pada penderita kejang @blogdokter

12 06 2013

Melihat teman, sodara, pacar atau selingkuhan sedang kejang memang kadang bikin panik, kita bahas pertolongan pertamanya yuk. #Kejang

1. Ada banyak gangguan kesehatan yang bisa menimbulkan gejala kejang tapi yang paling umum adalah epilepsi. #Kejang

2. Kejang bisa terjadi seluruh tubuh atau sebagian anggota tubuh. #Kejang

3. Kejang seluruh tubuh umumnya pasien tidak sadar dan pada kejang tipe ini seluruh bagian otak terlibat. #Kejang

4. Langkah pertama saat melihat orang kejang adalah jangan panik. #Kejang

5. Saat melihat orang kejang, jangan panik dan perhatikan apakah disekitar anda ada orang lain atau tidak. #Kejang

6. Saat melihat orang kejang, jangan mencoba2 untuk memegangnya atau menghentikan kejangnya dg tangan. #Kejang

7. Saat melihat orang kejang, catat lamanya waktu kejang karena ini penting bila nanti dibawa ke dokter/rumah sakit. #Kejang

8. Saat melihat orang kejang, bersihkan area di sekitar orang yg kejang dari benda2 yg tajam atau keras. #Kejang

9. Saat melihat orang kejang, longgarkan pakaian terutama di sekitar leher atau perhiasan pd leher yg dpt menyulitkan bernafas. #Kejang

10. Saat melihat orang kejang, letakan sesuatu yg lunak sbg bantalan kepala, misalnya lipatan jaket atau yg lain. #Kejang

11. Saat melihat orang kejang, coba miringkan orang tersebut dengan hati hati untuk melapangkan jalan nafas. #Kejang

12. Jangan memasukan sesuatu ke mulut orang yg sedang kejang. Lidah tidak akan menutup jalan nafas atau tergigit. #Kejang

13. Memasukan benda2 atau sesuatu ke mulut orang yg sedang kejang akan merusak/membuat cidera pada mulut. #Kejang

14. Jadi, kalau mau melapangkan jalan nafas pada orang yg sedang kejang, cukup dimiringkan saja. #Kejang

15. Sekali lagi, jangan memasukan tangan, sendok, kayu atau sejenisnya ke mulut orang yg sedang kejang. Berisiko menciderai mulut. #Kejang

16. Jangan pula mencoba2 ngasi nafas buatan pada orang yg sedang kejang selama orang tersebut masih bernafas. #Kejang

17. Nafas buatan hanya diberikan bila orang yg kejang tidak bernafas setelah kejangnya berhenti. #Kejang

18. Setelah melakukan semua langkah sebelumnya, saatnya menemani orang yg sedang kejang sampai kejangnya berhenti sendiri. #Kejang

19. Setelah kejangnya berhenti, tenangkan orang tersebut, ajak ngobrol sampai kesadarannya pulih kembali. #Kejang

20. Tawarkan utk memanggil taksi atau menelepon kerabat bila anda rasa orang tersebut akan kesulitan pulang. #Kejang

Sekian tentang pertolongan pertama orang yg sedang kejang khususnya epilepsi, selamat membantu sesama. #Kejang

sumber : chirpstory.com/li/64833





Sump Pit

29 04 2011

Sump pit adalah sebuah lubang yang dirancang untuk mengumpulkan air dan cairan tumpah lainnya. Salah satu lokasi yang paling klasik untuk sebuah lubang bah adalah ruang bawah tanah,basement, ruang pompa/gensetl fungsinya agar air dari sisa ruang bawah tanah  di lokalisasi

untuk memastikan bahwa ruang bawah tanah tidak banjir. Biasanya, sump pit dilengkapi dengan pompa pit, pompa yang dirancang untuk menyedot cairan dari lubang untuk memastikan bahwa tidak meluber. Pemeliharaan rutin dari kedua pit dan pompa diperlukan untuk memastikan bahwa lubang bah terus bekerja sebagaimana mestinya.

Struktur sumpit harus diperhatikan agar tekanan air dan tanah disekeliling dinding dapat ditahan sehingga tidak menyebabkan kebocoran. Beton yang digunakan sebaiknya waterprooping.

Gambar Shop drawing Struktur Sump pit

Gambar pembesian Sump Pit.





Drop panel

29 04 2011

Model struktur yang mengunakan Flat Slab merupakan model struktur tanpa balok. Ada penebalan pada kepala kolom yang disebut drop panel, akibatnya semua beban pada plat lantai akan didistribusikan lansung ke kolom. Pengunaan system drop panel ini akan memudahkan pelaksanaan pekerjaan dilapangan terutama pekerjaan bekisting/formwork, plat mayoritas datar dan tidak ada gangguan balok. Tipe formwork yang terapkan biasanya sytem table form, dengan system ini siklus pengerjaan akan lebih mudah diprediksi.

Hanya berkisar seminggu atau umur beton telah mencukupi –lebih dari 65% – bekisting sudah bisa dibongkar dan di re-proping. Bekisting selanjutnya bisa dipindah ke zona berikutnya. Re-proping bisa dilepas stelah beton mengeras pada umur 28 hari- lebih 100%.

Kendala :Dari pemantauan saya dilapangan, sebagian besar plat drop ini mengalami retak rambut yang memanjang, setelah diteliti, kedalaman retak ini hanya dikedalaman selimut beton, dengan lebar retak tidak lebih 1 mm.So, bukan retak struktur.





Lean Concrete dalam praktisnya disebut lantai kerja.

16 04 2011

Lean concrete atau lantai kerja

Lean Concrete dapat digunakan untuk proteksi terhadap lereng dan sebagai lantai kerja. Pengerjaannya harus mendapat persetujuan dari pengawas. ketebalan lean concrete = 5 cm.

Persyaratan kekuatan

Bahan pembuat beton harus dipilih dan dengan proporsi sedemikian rupa sehingga menghasilkan beton yang kuat, padat, dan tahan terhadap pelapukan dan abrasi. Beton harus memiliki kekuatan minimum untuk 28 hari = 120 kg/cm2

Komposisi

a. Lean concrete harus terdiri dari semen Portland, agregat halus dan air dengan komposisi tertentu untuk menghasilkan beton yang cocok untuk digunakan secara pneumatik

Semen Portland

a. Semen harus berupa semen Portland sesuai dengan semua persyaratan dari Japanese Industrial Standars dan/atau British Standards untuk semen Portland type I

b. Saat ditimbang dengan cara konvensioanal, semen Portland harus memiliki berat tidak kurang dari 1505,7 kg/m3

Agregat halus

a. Agregat halus harus berupa pasir silica alam yang terdiri dari partike yang keras, brsih, kuat, tahan lama, dan tidak dilapisi, sesuai dengan persyaratan Japanese Standars dan/atau British Standards untuk agregat Beton

b. AH harus bergradasi dari halus sampai kasar dan harus berda dalambatas sperti berikut ini :

a. Lolos saringan 9.5 mm 100%

b. Lolos saringan 4.76 mm 95% – 100%

c. Lolos saringan 2.68 mm 80% – 100%

d. Lolos saringan 1.18 mm 50% – 85 %

e. Lolos saringan 0.6 mm 25%- 60%

f. Lolos saringan 0.3 mm 10%- 30%

g. Lolos saringan 0.15 mm 2% – 10%

Air

a. Air yang digunakan saat pencampuran dan air yang berada di nosel harus segar, bersih, dan bebas minyak, asam, alkali, sayuran, limbah, dan/atau bahan organic.





Progres Galian April 2010

11 04 2010

Galian di areal tower 3, hmm ada saya tu..yang paling kiri.

Kontainernya kontraktor tu..

Tiang-tiang pancang sudah mulai bergelimpangan.

Semakin..

lokasi pile cap sudah mulai di patok oleh orang survey.





Jatuh cinta

10 02 2010

Nice thread…pengingat buatku

from : sobat-muda.com

“Jatuh cinta ala Ikhwah? Gak salah tuh? Kok ihwah bisa jatuh cinta? Maksudnya gimana nih?”

Mungkin itulah beberapa pertanyaan dan juga masih banyak pertanyaan lainnya yang bakal muncul di kepala teman-teman semua ketika membaca judul di atas. Bukan ingin cari sensasi atau bahkan menghakimi, tapi tulisan ini lahir semata-mata karena keprihatinan saya terhadap fenomena jatuh cinta antar ikhwan dan akhwat yang cenderung sudah keluar dari koridor syari’at.

Ya…, inilah fenomena yang akhir-akhir ini semakin vulgar muncul ke permukaan. Sungguh sesuatu yang sebenarnya wajar, namun ternyata lebih sering disalahimplementasikan sehingga mengakibatkan degradasi akhlaq, bahkan degradasi iman…!!! Na’udzubillaah.

Antara Cinta dan Ilmu

Kalo kita ngomongin tentang cinta, maka segala kerumitan yang seolah-olah muncul di hadapan kita. Cinta dengan kesederhanaannya, ternyata mampu membawa implikasi serius bagi si pelakunya. Tentu untuk yang mampu membawa cinta tersebut dalam nuansa yang sakral dan halal, cinta akan menjadi sarana yang positif dalam rangka mendekatkan diri kepada sang Pemilik Cinta itu sendiri. Tapi, ketika cinta itu dirusak dan dihiasi oleh nafsu dan maksiat, maka bukan hanya dosa yang akan menjadi tanggung jawabnya, berbagai bahaya lain, baik berkaitan dengan agama, sosial, maupun psikologi si pelaku sendiri.

Lalu bagaimana jika ternyata yang jatuh cinta itu adalah para ikhwan dan akhwat, yang notabenenya merupakan kalangan yang dalam pandangan orang awam adalah orang-orang yang lebih paham tentang agama. Bahkan mereka kerapkali dijadikan standar kebaikan dan panutan dalam akhlak dan pemahaman agama.

Kalo kita bicara idealnya, tentu bagi para ikhwan dan akhwat yang sedang jatuh cinta tersebut menjalin perasaan yang indah itu dalam ikatan bingkai pernikahan. Karena hanya itulah jalan terbaik untuk melabuhkan cinta. Dan saya rasa pun cukup banyak buku maupun tulisan yang menyajikan tata cara ideal menuju pelaminan. Namun, ternyata kenyataan tak seindah harapan. Akhirnya pun ‘pacaran’ pun jadi alternatif.

“Ikhwah pacaran? Kayaknya nggak mungkin banget deh…!!! Masa ada sih yang kayak gitu?”

Ya, inilah kenyataan yang banyak terjadi di sekitar kita. Bukan sekadar prasangka apalagi gosip belaka. Sungguh ironis dan menyakitkan hati memang. Ketika ikhwan dan akhwat yang lebih paham agama dan sudah tahu hukumnya, justru terjatuh dalam penyakit yang mematikan ini.

Bukan cintanya yang salah, namun aplikasi dalam menunjukkan cinta itu yang terlarang. Dan yang menjadikan lebih sakit hati, ketika mereka melakukan itu sementara tahu ilmunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan didatangkan seorang laki-laki pada hari kiamat, lalu dia dimasukkan ke dalam neraka. Maka berhamburanlah usus perutnya di neraka. Kemudian dia pun berputar sebagaimana keledai berputar pada batu gilingan. Maka penduduk neraka berkumpul di depannya seraya berkata, “Wahai fulan, kenapa engkau begini? Bukankah engkau dahulu yang memerintahkan kami dengan sesuatu yang ma’ruf dan melarang kami dari sesuatu yang mungkar?” Laki-laki itu menjawab, “Betul. Aku dahulu memang memerintahkan kalian dengan sesuatu yang ma’ruf, namun aku tidak melakukannya. Dan aku telah melarang kalian dari kemungkaran, namun aku sendiri melakukannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penyebab Cinta Itu Bersemi

Sebelum melanjutkan pembahasan, mungkin akan lebih menarik kalo kita berusaha mencari sumber-sumber yang membuat para ikhwan or akhwat itu pada jatuh cinta. Memang, bahwa cinta itu muncul secara tiba-tiba, namun pun demikian kemunculan cinta itu sendiri pada umumnya dipicu oleh sesuatu hal. Bahasa Fisikanya hukum sebab-akibat.

Tapi karena kali ini kita membahas tentang ikhwan dan akhwat, maka tentu dalam mengkaji asal usul tumbuhnya cinta harus sedikit memahami bagaimana pola pikir dan pemahaman para aktivis tersebut yang tentu saja berbeda dengan kebanyakan orang awam.

Nah, hal-hal apa saja yang mampu menyulut cinta di hati para aktivis itu? Berikut diantaranya :

–          Agama dan Keshalihan

Saya rasa ini adalah tolak ukur pertama yang dijadikan pegangan bagi para aktivis itu. Bagaimana tidak… alangkah menyenangkan bisa melihat ikhwan yang rajin shalat, suaranya merdu kalo lagi mengaji, nggak pernah ninggalin puasa sunnah, pinter bahasa arab, hafalannya banyak.. de-el-el… Begitu pula pula, betapa senengnya lihat akhwat yang pake jilbab rapi dan lebar, selalu menundukkan pandangan, dan lain sebagainya. Kekaguman pada ‘kesan alim’ itu yang disadari atau tidak menjadi awal mula munculnya benih cinta.

–        Pribadi yang Menakjubkan

Inipun juga standard yang biasanya dijadikan parameter bagi pada aktivis tersebut… Biasanya mereka akan lebih mudah kagum sama orang-orang yang punya tipe aktivis sejati. Aktif di rohis or LDK, aktif di BEM, punya IP yang bagus, berwawasan luas, memiliki jiwa kepemimpinan, tegas, de-el-es-be… Wah, siapa sih yang nggak seneng… Dan biasanya, mereka yang bertipe aktivis sejati ini memiliki ‘nilai jual’ yang sangat tinggi. Nggak perlu susah-susah nyari calon, karena mereka biasanya bakal jadi dambaan di hati para pengagumnya.

–          Perhatiannya itu lho…

Siapa sih yang nggak ingin diperhatiin…? Ini juga salah satu daya tarik yang perlu digarisbawahi. Biasanya mereka yang bertitle aktivis tuh punya perhatian dan keprihatinan yang tinggi. Mulai dari lingkungan terdekatnya sampai orang yang nggak dikenal pun mereka perhatian banget… mulai dari sekadar sms, telpon, or say hello, dan akhirnya yang dilimpahi perhatian tuh bakal klepek-klepek tak berkutik.

–          Wajah yang menawan plus senyum yang manis

Senyum memang adalah ibadah. Yang dengannya akan terajut ukhwah di antara manusia. Nah, bagaimana jika yang melempar senyuman itu ikhwan, dan yang mendapat senyuman itu akhwat… Begitu juga sebaliknya. Apalagi kalo yang kasih senyum juga punya wajah tampan or cantik… Udah hampir pasti bakal bergemuruh tuh hati.

Nah, kembali ke permasalahan. Apakah itu berarti keempat hal di atas adalah terlarang? Saya rasa untuk mengatakan terlarang secara mutlak adalah suatu hal yang terburu-buru. Mengingat bisa jadi bukan keempat di atas bukanlah suatu yang disengaja oleh pelakunya, melainkan sudah merupakan watak. Apalagi keempat hal di atas merupakan asal muasalnya merupakan sendi-sendi Islam yang hanif

Solusi yang Patut Dicermati

Seperti yang telah sedikit disinggung di atas, bahwa ketika perasaan simpati, sayang, cinta or apalah namanya muncul, maka menyandarkan cinta itu ke dermaga pernikahan adalah solusi yang cerdas dan tepat. Karena saya rasa tidak ada hal lain yang begitu efektif dan efisien -meminjam istilah manajemen- selain menikah, meski dalam sebuah hadits, Rasulullah pun juga memberikan alternatif lain untuk puasa. Namun persoalannya siapakah yang mampu untuk terus menerus berpuasa?

“Lalu, bukankah menikah juga adalah hal yang tidak sederhana? Butuh kesiapan finansial dan kemampuan memberikan nafkah? Sementara bagi mereka yang jatuh cinta tersebut di atas sebagiannya belum memiliki itu semua?”

Maka, melupakan dan mengubur perasaan itu dalam-dalam adalah suatu kewajiban. Karena bagaimanapun juga dan diatasnamakan apapun, kedudukan cinta yang kayak gitu tetap belum halal selama belum menikah. Jangan sampai justru sebaliknya, dengan dalih cinta akhirnya malah tetap melanjutkan ke hubungan yang haram dan terlarang, karena hal itu tentu adalah sebuah tindakan yang nekad, salah, bodoh dan merusak.

“Tapi, saya tidak tega untuk mengakhirinya? Saya khawatir akan menyakitinya, membuatnya menangis dan akhirnya berbuat zhalim kepadanya?”

Ya ikhwah, bagaimana mungkin anda -yang paham agama- takut menyakiti seseorang, membuat menangis atau bahkan berbuat zhalim kepada manusia, sementara secara bersamaan hal yang anda lakukan itu justru perbuatan zhalim kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Dzat yang menciptakan kalian berdua? Bukankah hak Allah lebih wajib untuk kita penuhi daripada hak manusia? Bukankah adzab Allah lebih kita takuti daripada sekadar tangisan manusia. Di manakah posisi iman anda saat itu? Apalagi jika ternyata anda lebih memilih untuk mendahulukan cinta kepadanya ketimbang cinta kepada-Nya? Wal iyadzubillah…

Sebuah Nasihat yang Selayaknya Kita Renungkan

Ada sebuah ungkapan dan permisalah yang menarik, bijak, dan menyejukkan yang ditulis oleh al-Ustadz Abu Umar Basyir hafizhahullah dalam bukunya Sutra Cinta, yang semoga bisa menjadi cemeti yang akan menyadarkan kesalahan ini. Di mana dalam buku tersebut beliau berkata :

“Persoalannya, bagaimanakah bila rasa cinta itu muncul jauh-jauh hari sebelum terbersit rencana pernikahan? Seorang pemuda yang jatuh cinta kepada gadis tetangganya? Atau seorang pelajar atau siswa yang tertarik dan menaruh hati pada teman sekolahnya?

Bila ketertarikan itu muncul secara wajar, bukanlah persoalan. Yang menjadi persoalan, sekali lagi, bila cinta itu dilampiaskan dengan cara yang haram. Satu-satunya cara yang halal untuk melampiaskan cinta tersebut hanyalah dengan menikah. Kalau belum mampu menikah, tidak ada satu carapun yang bisa menyelesaikan kasus penyakit cinta tersebut. Ia justru harus memeranginya, bukan karena haramnya cinta kasih, namun karena haramnya cinta itu dilampiaskan di luar aturan syari’at. Sebagai analoginya, mungkin bisa kita cermati makanan dan minuman. Betapa lezatnya suatu makanan, dan betapa lapar pun kita, meski makanan itu halal, namun saat kita sedang berpuasa terutama puasa wajib di bulan Ramadhan, kita harus menahan diri dan gejolak nafsu dalam jiwa kita, hingga tiba saatnya berbuka. Kalau khawatir kesegaran makanan tersebut berkurang, berikan saja kepada orang yang sedang tidak berpuasa. Artinya, bila tiba saat berbuka dan Allah menakdirkan kita tetap bisa menyantap makanan itu, alhamdulillah. Namun bila tidak, ya tidak apa-apa.

Bila rasa cinta itu masih menggeeliat di hati seseorang, sementara ia belum mampu menikahinya, maka rasa cinta itu tidak boleh dipupuk. Karena melampiaskan cinta dengan mengobrol, berbual-bual, saling melihat, dan bepergian bersama-sama adalah haram. Dan sebenarnya cinta seperti itu lebih layak disebut nafsu asmara, dan bukan cinta sejati. Balutannya adalah nafsu, bukan iman. Karena orang yang ingin menyantap makanan yang bukan miliknya, atau yang haram hukumnya bila dimakan, atau menggauli wanita yang bukan istrinya, mencabut tanaman yang bukan kepunyaannya, berarti telah memiliki nafsu untuk berbuat kezhaliman, berbuat haram, dan melakukan pelanggaran terhadap aturan Allah. Cobalah simak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “ Jangan melihat lawan jenis lebih dari satu kali. Karena melihat yang pertama (tanpa disengaja) adalah mubah, tapi yang kedua sudah haram.” Juga sabda beliau kepada Ali, “Palingkan pandanganmu dari wanita itu.”

Maka, jelas seorang muslim atau muslimah dilarang saling melihat lawan jenisnya untuk mengobrol berlama-lama, apalagi bila di hati mereka sudah tertanam rasa saling menyukai, yang menyebabkan pandangan bukan hanya berulang dua kali, tapi puluhan atau bahkan ratusan kali. Nah, berapa banyak dosa yang dia tumpuk selama mengobrol dengannya?”

– Sekian uraian ust. Abu Umar Basyir hafizhahullah –

Sekadar Pengingat Saja

Mungkin apa yang saya tulis di atas cenderung skeptis. Seolah saya adalah orang yang tidak pernah merasakan cinta, tidak pernah jatuh cinta, atau bahkan selalu mendapatkan yang namanya kegagalan cinta. Seolah mengambarkan saya adalah orang yang kaku, anti cinta dan nggak punya rasa kasih sayang.

Namun justru sebaliknya, saya adalah orang yang normal, pernah merasakan apa itu cinta, jatuh cinta dan kegagalan cinta. Saya juga bukan seorang yang kaku apalagi anti cinta dan nggak punya kasih sayang. Karena disadari atau tidak, apa yang saya tulis ini merupakan bentuk lain dari rasa cinta dan kasih sayang saya. Meski seolah terlihat seperti sebuah hal yang tampak berlawanan. Kesalahan-kesalahan saya di masa lalu itu membuat saya tidak ingin melihat ada sahabat dan saudara seagama lainnya yang terjatuh pada lubang yang sama.

Kesalahan-kesalahan yang muncul akibat kebodohan saya waktu itu, yang alhamdulillah Allah meyelamatkan saya sebelum akhirnya mendapatkan dan merasakan cinta yang sejati. Karena seorang muslim yang hakiki itu bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, namun adalah orang yang ketika terjatuh dalam kesalahan segera bertaubat kembali kepada-Nya.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya juga teringat sebuah perkataan salah seorang teman akhwat di UI, di mana beliau hafizhahullah pernah mengingatkan saya ketika itu yang kurang lebih maknanya, “Jangan pernah menyirami bunga itu, atau ia akan terus tumbuh.” Maksudnya, jangan pernah menyiram dan memelihara cinta itu, jika tidak ingin ia tumbuh dan terus tumbuh. Atau dengan kata lain, bunuh dan redamlah cinta itu jika engkau belum sanggup untuk menikahinya.

Semoga apa yang saya tulis di atas, bisa menjadi cerminan tingkah laku dan perbuatan kita selama ini dalam memahami dan memaknai cinta itu sendiri. Pun bisa menjadi pengingat di kala lupa serta penanda di kala terlelap. Semoga Allah senantiasa membimbing kita di atas kebenaran dan memalingkan kita dari segala maksiat dan keburukan. Dan Rabbku Maha Mengabulkan Do’a…





Allah Cemburu Padamu

10 02 2010

Sy rasa tulisan ini dapat memberi nasihat pada diri saya sendiri yang kadang sering lalai…

sumber : sobat-muda.com/content/view/86/30/

Berawal dari sebuah kekaguman terhadap seseorang maka dimulailah sebuah fase saling interaksi. Awalnya bisa jadi tidak saling mengenal namun berbuntut sebuah komunikasi. Adalah sebuah fenomena yang masa sekarang telah menjadi sebuah realita diantara mereka yang lebih banyak disebut sebagai aktivis dakwah maupun para penuntut ilmu agama.

Sebelumnya, adalah sebuah interaksi mengenai tanya-jawab agama dan seiring berjalannya waktu hubungan yang semestinya wajar menjadi sangat tak wajar. Saling berbagi adalah tahap dasar perkenalan yang dapat membawa ke liang kemaksiatan lebih dalam ketika apa yang sebelumnya diinginkan telah terjawab, dan sebuah hubungan berubah lebih dalam. Terkadang bertanya kabar, sedang apa, dimana, bersama siapa, bagaimana, dan sekelumit pertanyaan lainnya layaknya sepasang suami-istri yang baru sebulan menikmati kehalalan sebuah hubungan.

Miris, memang melihat ikhwan-akhwat yang dalam pandangan banyak orang secara lahiriah adalah agen perubahan dan memiliki semangat membara untuk belajar agama. Semangat yang berbeda dari anak muda biasanya, namun telah berubah arah menjadi anak muda biasanya. Telah mengaji dan berada dalam komunitas ilmu sejak sekolah tapi hubungan percintaan berbeda jenis nan haram terbawa hingga bangku kuliah. Ketika ilmu yang dimiliki tak lagi dapat mengontrol hawa nafsu dan ketika sebuah syahwat mendominasi perilaku. Tipu daya syaithan dalam menghembuskan nafas kenikmatan telah dikabulkan oleh sepasang ikhwan-akhwat yang sedang kasmaran.

Zaman fitnah yang telah melanda membuat para pemuda berlari dari ketaatan menuju kemaksiatan. Bukanlah sebuah syubhat yang telah bersemayam dalam tubuhnya, karena mereka yakin bahwa manhaj yang haq telah dipahami. Tapi fitnah syahwat terpaksa disepakati bersama dengan balutan ‘rencana menikah’. Sungguh sangat disayangkan.

Bisa jadi tipu daya ini melenakan dan memiliki daya ledak yang sangat besar. Lebih besar dari hantaman gelombang tsunami dan letusan puncak gunung. Sebab fitnah hati ketika melanda akan membuat seorang yang faqih menjadi meringkih, mereka yang banyak hafalan Al Qur’an berubah menjadi hafal kebiasaan ‘pasangannya’, dan mereka yang dahulu nyaman duduk di majelis ilmu lebih asyik untuk membalas sms dari sang ayu. Sungguh sulit berlari dari hal ini, terlebih bagi kedua insan yang memang mereka paham salah walaupun hawa nafsu memporak-porandakan hati. Tapi ketahuilah kawan bahwasanya ada sebuah kemudahan dan balasan besar dari Allah jika anda berlari dari tipuan syaithan yang menyusup dengan pelan nan pasti.

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai manusia! Sungguh janji Allah itu benar, maka janganlah kamu dan janganlah (syaithan) yang pandai menipu. Memperdayakan kamu tentang Allah. Sungguh, syaithan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya syaithan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fatir (35) : 5-6).

Bertakwalah kepada Allah wahai saudaraku, sesungguhnya cobaan dan fitnah tersebut hendaklah engkau hilangkan dari dirimu. Berlarilah dari fitnah hati yang akan membuatmu lalai dan terlena dengan tipu daya syaithan tersebut. Adalah sebuah prestasi yang sangat nyata dari misi para syaithan ketika mereka telah berhasil memalingkan setiap hamba Allah dari ketaatan kepada kemaksiatan, dari semangat beribadah menjadi semangat khalwat smsan.

Shahabat Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas lautan. Kemudian ia mengirimkan bala tentaranya. Tentara yang paling dekat kedudukannya dengan iblis adalah yang menimbulkan fitnah paling besar kepada manusia. Seorang dari mereka datang dan berkata, ‘Aku telah lakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab, ‘Engkau belum melakukan apa-apa.’’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, ‘Lalu datanglah seorang dari mereka dan berkata, ‘Tidaklah aku meninggalkannya sehingga aku telah berhasil memisahkan ia (suami) dan isterinya.’’ Beliau melanjutkan, ‘Lalu iblis mendekatkan kedudukannya. Iblis berkata, ‘Sebaik-baik pekerjaan adalah yang telah engkau lakukan.” (HR. Muslim 2813).

Maka khawatiirlah saudaraku, dengan hubungan yang kau jalani saat ini. Fitnah itu menyambar sangat kencang dan kuat sedangkan hati itu adalah lemah. Bisa jadi kali ini kau mampu berkata bahwa dapat mengatasinya, tapi ketahuilah luka yang akan kecil dapat menjadi besar jika tidak lekas diobati, tanaman yang kecil dapat menjadi besar jika terus-menerus disirami, begitu juga dengan hati. Simaklah apa yang dikatakan oleh seorang ulama besar yang seringkali membahas hati serta problemanya juga terapi hati.

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata dalam Ighatsatul Lahfaan 1:132, “Cintalah yang menggerakkan para pecinta untuk mencari ‘yang dicintainya’, yang dengan meraih hasil pencariannya itu, ia akan merasa medapati kesempurnaan. Cintalah yang menggerakkan pecinta Ar Rahman, pecinta Al Qur’an, pecinta ilmu dan iman, pecinta barang perniagaan dan uang, pecinta berhala dan salib, pecinta wanita atau remaja pria, pecinta anak-anak, dan pecinta saudara; sehingga membangkitkan energi yang bersumber dari hati menuju kepada apapun yang dicintainya.”

Beliau rahimahullah melanjutkan lagi perkataannya, “Oleh sebab itu, kita akan mendapati, mereka yang mabuk kepayang kepada wanita dan remaja pria, juga pnggila ‘Kitab Suci Syaithan’ –yaitu musik dan lagu-; tidak pernah tergerak hatinya untuk mendengar ilmu dan bukti-bukti keimanan, juga saat mereka membaca Al Qur’an.”

Beliau rahimahullah menjelaskan poin yang sangat menohok kepada setiap pecinta dengan penjelasan, “Tapi ketika apa yang dicintainya itu disebut-sebut, kontan hatinya tergugah dan menggeliat hebat, batin dan lahirnya pun bergerak mengejarnya dengan penuh kerinduan, bahkan ia akan sangat berbahagia mendengar ‘sang kekasih’ disebut-sebut.”

Penjelasan beliau ditutup dengan hakikat cinta yang abadi, “semua yang kecintaan disini tentu saja bernilai kepunahan, kecuali kecintaan kepada Allah dan kepada apa saja atau siapa saja yang membantu proses kecintaan kepadaNya, seperti cinta kepada RasulNya, KitabNya, AgamaNya, dan Wali-waliNya, juga kepada kaum muslimin seluruhnya. Inilah cinta yang abadi. Abadi buah dan kenikmatannya, karena keabadian Dzat yang menjadi tumpuan cinta.” –selesai kutipan—

Kembalilah saudaraku kepada jalan keistiqomahan yang dahulu pernah  menyelamatkanmu dari kebinasaan. Sesungguhnya kau harus melepaskan fitnah yang berkecamuk dari hatimu. Sakit memang untuk melepaskannya, tapi ada hikmah besar termasuk keridhaan Allah dibalik itu semua. Saudaraku, apa yang kaujalani sekarang bersama ‘pasanganmu’ itu adalah bukan dirimu yang sebenarnya. Kembalilah kepada ketaatan. Nikahilah ‘pasanganmu’ itu jika kau memang telah memiliki tekad yang bulat atas hubungan itu. Jika tidak maka akan datang badai yang semakin mendera dan bergejolak di dadamu semakin tajam.

Kalian telah mengaji, sering berada dalam halaqah ilmu, berjumpa dengan para sahabatmu yang berada diatas keistiqomahan. Jangan sampai fitnah hati menjeratmu kedalam liang semakin dalam. Ketahuilah teman-teman perjuanganmu dahulu sangat sedih dan mengharapkan agar apa yang kau lakukan ditinggalkan. Tidak ada percintaan sebelum pernikahan. Tinggalkanlah hiasan-hiasan kerinduan dihatimu, putuskan hubungan itu jika kau tak segera menikahinya, dan kembalilah kepada ampunan Allah Ta’ala.

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah kedalam surgaKu.” (QS. Al Fajr (89) : 27-30).

Kembalilah saudaraku, kembalilah dan jangan engkau membuat Allah cemburu kepada dirimu sebagaimana yang Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam katakana, “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala cemburu dan cemburunya Allah bila seseorang mendatangi apa yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).